Cara Membuat Iklan Relatable, dalam dunia pemasaran yang penuh dengan informasi, konsumen kini tidak lagi mudah terpengaruh oleh janji bombastis atau visual mewah semata. Mereka mencari sesuatu yang lebih dalam, lebih manusiawi, dan lebih dekat dengan kehidupan nyata. Inilah alasan mengapa iklan yang relatable semakin digemari dan efektif. Iklan jenis ini bukan hanya menarik perhatian, tapi juga membangun koneksi emosional yang bertahan lama. Namun, membuat iklan relatable bukanlah tugas yang bisa diselesaikan hanya dengan kreativitas. Ia membutuhkan pemahaman mendalam tentang psikologi audiens, nilai sosial, serta kepekaan terhadap emosi dan pengalaman hidup mereka.
Cara Membuat Iklan Relatable, Iklan relatable bekerja karena ia membuat penonton merasa dimengerti. Ketika seseorang menonton iklan dan spontan berkata, “Ini gue banget,” maka di situlah titik keberhasilannya. Namun, pertanyaannya adalah, bagaimana sebenarnya cara membuat iklan seperti itu? Apa saja elemen penting yang harus diperhatikan agar iklan terasa akrab, dekat, dan tidak dibuat-buat?
Baca juga: Contoh Iklan Relatable: Strategi Emosional yang Melekat di Benak Audiens
Memahami Audiens dengan Mendalam
Langkah awal dan paling krusial dalam menciptakan iklan relatable adalah mengenali siapa audiens yang ingin dijangkau. Ini bukan sekadar tentang demografi seperti usia, jenis kelamin, atau pekerjaan, tapi lebih kepada gaya hidup, nilai-nilai, kebiasaan, dan bahkan ketakutan serta harapan mereka. Tanpa pemahaman ini, upaya untuk membuat iklan relatable akan mudah meleset.
Brand perlu melakukan riset menyeluruh, baik melalui wawancara, survei, observasi sosial, hingga menganalisis percakapan di media sosial. Dari sana, akan terlihat pola-pola pengalaman yang sering dialami target audiens. Misalnya, anak muda usia 18–25 tahun mungkin sedang bergulat dengan tekanan studi, pencarian identitas, atau rasa tidak percaya diri. Sementara itu, ibu rumah tangga mungkin lebih sering bergulat dengan kelelahan mental, multitasking, dan ekspektasi sosial.
Semakin dalam pemahaman terhadap audiens, semakin besar peluang untuk menciptakan narasi yang terasa seperti cermin bagi kehidupan mereka. Dan ketika audiens merasa bahwa sebuah iklan memahami kehidupan mereka, iklan tersebut tidak akan mudah terlupakan.

Membangun Cerita dari Situasi Nyata
Setelah memahami audiens, langkah berikutnya adalah mengemas narasi iklan berdasarkan situasi yang sering mereka hadapi dalam keseharian. Cerita yang diangkat tidak perlu terlalu dramatis atau luar biasa. Justru, kekuatan dari iklan relatable terletak pada kesederhanaan dan kejujuran.
Misalnya, brand makanan bisa mengambil latar cerita tentang seorang anak kos yang sedang bingung menentukan menu makan dengan uang pas-pasan. Dalam suasana seperti itu, muncul produk yang bisa menjadi solusi praktis, bukan sebagai pahlawan besar, tapi sebagai teman yang bisa diandalkan. Cerita semacam ini bekerja karena terasa autentik, dan banyak orang pernah mengalaminya.
Cara Membuat Iklan Relatable, Cerita juga bisa berasal dari konflik emosional yang umum, seperti dilema antara karier dan keluarga, atau perasaan tidak cukup meskipun sudah berusaha keras. Dengan menyoroti sisi manusiawi dari tokoh dalam iklan, penonton bisa merasakan bahwa brand tidak datang untuk menggurui, tetapi untuk menemani.
Gunakan Bahasa Sehari-hari yang Tidak Menghakimi
Salah satu hal yang membuat iklan relatable terasa hidup adalah penggunaan bahasa yang akrab dan membumi. Hindari jargon teknis atau gaya bahasa yang terlalu formal. Bahasa sehari-hari yang digunakan oleh audiens akan lebih mudah membangun keintiman. Ketika penonton merasa sedang diajak ngobrol, bukan disuruh membeli, maka keterbukaan terhadap pesan pun meningkat.
Di sisi lain, penting juga untuk menghindari nada yang menghakimi atau menyiratkan bahwa audiens salah atau kurang baik. Iklan yang relatable tidak memposisikan brand sebagai “penyelesai masalah besar,” tetapi sebagai teman yang memahami dan hadir untuk membantu. Nada empatik, suportif, dan inklusif sangat diperlukan agar pesan bisa diterima dengan hati terbuka.
Contoh pendekatan seperti ini bisa terlihat dari iklan layanan kesehatan mental yang tidak langsung menyuruh orang untuk pergi ke psikolog, tetapi justru memulai dengan kalimat seperti, “Nggak apa-apa kok kalau kamu merasa nggak baik-baik saja.” Kalimat ini menjadi hook yang tidak mengintimidasi, justru mengundang penonton untuk mendengarkan lebih lanjut.
Visual dan Detail yang Autentik
Kekuatan visual juga tidak bisa diabaikan dalam iklan relatable. Penonton sangat peka terhadap keaslian. Maka, gunakan latar tempat, kostum, ekspresi wajah, dan bahkan suara latar yang sesuai dengan keseharian audiens. Jika menyasar pekerja kantoran, perlihatkan kehidupan commuting, ruang kerja kecil, dan lelah setelah lembur. Jika menyasar ibu muda, tampilkan suasana rumah dengan mainan berserakan atau anak kecil yang merengek.
Autentisitas adalah kunci. Ketika penonton melihat detail-detail kecil yang akrab dalam hidup mereka, maka iklan akan terasa lebih personal. Tidak perlu efek visual yang mewah. Justru, pencahayaan natural, gaya sinematografi dokumenter, dan musik yang emosional ringan akan lebih menguatkan kesan dekat dan apa adanya.
Hadirkan Emosi Tanpa Menjadi Manipulatif
Emosi adalah jantung dari iklan relatable. Namun, menyentuh emosi bukan berarti membuat penonton menangis semata. Emosi bisa berupa rasa hangat, haru, lega, bahkan tawa kecil yang menyentuh. Yang penting adalah emosi itu hadir secara organik, bukan karena dipaksakan.
Emosi harus tumbuh dari cerita yang kuat dan penggambaran yang realistis. Jika emosi hadir terlalu dramatis, penonton justru akan merasa dijebak atau dimanipulasi. Maka, kepekaan emosional sangat penting. Sentuhan emosi yang ringan namun dalam, seringkali jauh lebih mengena dibanding ledakan emosi yang terlalu teatrikal.
Cara Membuat Iklan Relatable, Salah satu pendekatan efektif adalah menyampaikan perubahan atau transisi emosional tokoh dalam iklan. Misalnya, dari perasaan putus asa menjadi sedikit optimis. Dari bingung menjadi menemukan arah. Dari takut menjadi percaya diri. Perjalanan kecil ini terasa sangat manusiawi dan mudah dikenali oleh banyak orang.
Konsistensi dengan Nilai Brand
Terakhir dan tidak kalah penting, iklan relatable harus sejalan dengan nilai dan karakter brand. Jangan sampai brand terlihat hanya meniru gaya komunikasi populer demi viralitas, tetapi tidak mencerminkan identitas aslinya. Penonton kini semakin sensitif terhadap ketidaktulusan. Mereka bisa merasakan mana brand yang benar-benar peduli, dan mana yang hanya ikut-ikutan.
Jika brand mengusung nilai keberagaman, maka iklan relatable juga harus menunjukkan representasi yang inklusif. Jika brand ingin dikenal sebagai pendukung kehidupan keluarga, maka narasi iklannya juga harus menyentuh dinamika keluarga secara otentik. Konsistensi ini menciptakan kredibilitas yang menjadi dasar bagi hubungan jangka panjang antara brand dan konsumen.
Kesimpulan
Membuat iklan relatable adalah tentang membangun jembatan emosional antara brand dan audiens. Ia bukan soal kata-kata indah atau visual mencolok, melainkan soal keberanian untuk jujur, sederhana, dan mendengarkan. Ketika iklan mampu berbicara dalam bahasa yang dipahami dan dirasakan oleh audiens, maka dampaknya akan jauh lebih dalam daripada sekadar angka impresi atau klik.
Dalam era ketika semua brand berlomba tampil menarik, yang paling diingat adalah mereka yang mampu menyentuh hati. Dan iklan relatable adalah cara paling manusiawi untuk mencapai itu. Tidak mudah memang, tapi ketika berhasil, efeknya akan tinggal lama, bahkan setelah iklannya berakhir.
Ingin meningkatkan visibilitas dan pertumbuhan bisnis di dunia digital? DIGIMA siap membantu! Kami menyediakan layanan pembuatan konten Instagram yang menarik, pengembangan website profesional, serta produksi video pendek yang engaging untuk meningkatkan interaksi dengan audiens. Optimalkan strategi pemasaran digitalmu bersama DIGIMA! Hubungi Admin DIGIMA atau kirim DM ke Instagram DIGIMA sekarang dan temukan solusi terbaik untuk bisnis Anda.


